efek kupu-kupu dalam sejarah
bagaimana satu salah belok supir memicu perang dunia pertama
Pernahkah kita merasa kesal setengah mati hanya karena salah ambil jalan saat menyetir? Mungkin kita jadi telat rapat, kehabisan tiket bioskop, atau sekadar terjebak macet berjam-jam. Menyebalkan, memang. Tapi, mari kita bernapas lega sejenak. Kesalahan belok yang kita lakukan kemungkinan besar tidak memicu hancurnya empat kekaisaran besar atau menewaskan jutaan nyawa.
Di dalam sains, kita mengenal istilah butterfly effect atau efek kupu-kupu. Konsep dari teori kekacauan (chaos theory) ini bilang bahwa kepakan sayap seekor kupu-kupu di Brasil bisa memicu rentetan kejadian yang berujung pada tornado di Texas. Kedengarannya puitis dan sedikit tidak masuk akal. Namun, pada tanggal 28 Juni 1914, efek kupu-kupu ini terjadi di dunia nyata. Bukan dikepakkan oleh serangga, melainkan oleh seorang supir yang kebingungan di jalanan kota Sarajevo.
Mari kita kembali ke hari itu. Cuaca sedang cerah. Tokoh utama kita adalah Archduke Franz Ferdinand, pewaris takhta Kekaisaran Austria-Hongaria. Dia datang ke Sarajevo bersama istrinya, Sophie, untuk sebuah kunjungan kenegaraan. Mereka berkeliling kota menggunakan mobil atap terbuka, melambaikan tangan kepada warga.
Namun di antara kerumunan itu, bersembunyi sekelompok pemuda radikal dari organisasi Black Hand. Niat mereka cuma satu: menghabisi nyawa sang pewaris takhta.
Saat iring-iringan mobil bergerak, seorang pembunuh melempar bom ke arah mobil Franz Ferdinand. Bunyinya memekakkan telinga. Namun ajaibnya, bom itu memantul dari atap mobil lipat dan justru meledak di bawah mobil di belakangnya. Franz Ferdinand selamat. Sang pelempar bom panik, menelan pil sianida, dan melompat ke sungai. Sial baginya, pilnya kedaluwarsa dan sungainya sedang sangat dangkal. Dia ditangkap hidup-hidup.
Operasi pembunuhan itu tampak gagal total. Ancaman sudah lewat. Kita mungkin berpikir, oke, krisis terlewati. Semua bisa pulang dengan selamat. Tapi sejarah, teman-teman, ternyata punya selera humor yang sangat gelap.
Setelah insiden bom tersebut, jadwal acara rupanya masih dilanjutkan. Franz Ferdinand yang sedang emosi tinggi sampai di balai kota. Setelah pidato penyambutan yang canggung, dia membuat satu keputusan krusial yang manusiawi: dia ingin menjenguk para ajudannya yang menjadi korban ledakan bom di rumah sakit.
Demi keamanan, rute iring-iringan mobil diubah. Mereka tidak akan melewati jalan utama kota. Sayangnya, di zaman sebelum ada grup WhatsApp atau peta digital, informasi perubahan rute ini tidak pernah sampai ke telinga supir mobil Franz Ferdinand. Supir itu bernama Leopold Lojka.
Sementara itu, di sudut kota yang lain, ada Gavrilo Princip. Dia adalah salah satu anggota tim pembunuh yang gagal tadi. Merasa misinya berantakan, pemuda berusia 19 tahun itu berjalan gontai. Dia lapar, merasa kalah, dan akhirnya memutuskan untuk melipir ke sebuah kedai bernama Moritz Schiller's Delicatessen untuk membeli semacam roti isi.
Coba teman-teman bayangkan posisinya sekarang. Si supir sedang menyetir dengan instruksi rute yang salah. Si pembunuh sedang berdiri di trotoar, mengunyah makanannya sambil meratapi nasib.
Apa yang akan terjadi saat dua garis nasib yang saling membelakangi ini mendadak bertabrakan?
Mobil Franz Ferdinand melaju santai dan berbelok ke kanan, masuk ke Jalan Franz Josef. Itu adalah rute lama. Seorang jenderal di dalam mobil baru sadar akan kesalahan ini. Dia berteriak panik kepada si supir, "Salah jalan! Berhenti! Mundur!"
Leopold Lojka, sang supir, kaget dan refleks menginjak rem. Dia mencoba memasukkan gigi mundur, namun persnelingnya macet. Mesin mobil itu mendadak mati. Dan tebak di mana mobil itu berhenti?
Tepat di depan kedai Schiller.
Gavrilo Princip yang sedang berdiri di depan kedai hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Target yang dia pikir sudah lolos, kini berhenti tepat di depan hidungnya, terjebak di dalam mobil yang mogok, jaraknya tak sampai dua meter. Tanpa berpikir panjang, Princip melangkah maju, mencabut pistolnya, dan melepaskan tembakan mematikan.
Dor.
Peluru itu adalah kepakan sayap kupu-kupu kita. Dalam sebulan, penembakan tersebut memicu krisis diplomasi global yang tak terbendung. Austria-Hongaria menyatakan perang terhadap Serbia. Rusia maju membela Serbia. Jerman bergerak membela Austria. Prancis dan Inggris ikut terseret ke dalam arena.
Perang Dunia Pertama pun pecah. Empat kekaisaran raksasa runtuh. Kengerian perang ini kelak melahirkan fasisme, komunisme, dan menjadi pemicu langsung Perang Dunia Kedua. Bahkan batas-batas negara di Timur Tengah yang hari ini penuh konflik, adalah hasil pembagian wilayah dari perang tersebut. Roda sejarah dunia modern berubah arah untuk selamanya, hanya karena satu orang supir salah memutar kemudi.
Ketika kita melihat sejarah dari lensa psikologi dan chaos theory, kita akan menyadari satu hal yang sering membuat kita gelisah. Otak manusia pada dasarnya selalu mencari pola dan ilusi kendali. Kita sangat ingin percaya bahwa peristiwa besar dan dahsyat pasti disebabkan oleh alasan yang sama besarnya. Konspirasi raksasa, rencana matang, atau takdir langit.
Namun faktanya, dunia tempat kita tinggal ini sangat acak dan saling terhubung dengan cara yang rapuh. Keputusan-keputusan remeh yang kita buat hari ini bisa memicu rentetan peristiwa yang tak terbayangkan di masa depan.
Tentu, ini bukan berarti kita harus overthinking sampai berkeringat dingin setiap kali salah belok di jalan raya atau salah mengirim email. Justru, ini adalah sebuah undangan untuk sedikit lebih rendah hati. Kita tidak pernah benar-benar memegang kendali penuh atas semesta ini. Dan mungkin, itu tidak apa-apa.
Mari kita jalani hidup sebaik mungkin dan membuat keputusan-keputusan kecil yang baik setiap harinya. Bersikap ramah pada kasir minimarket, menahan diri untuk tidak menulis komentar jahat di media sosial, atau sekadar tersenyum pada orang asing. Siapa tahu, tindakan kecil teman-teman hari ini adalah kepakan sayap kupu-kupu yang kelak menyelamatkan dunia seseorang.